Sabtu, 05 November 2016

Ukhti, Aku Rindu Jilbab Panjangmu


Assalamualaikum warorhmatullahi wabarokatuh,,,,
Kaifa Haluk Ukhti,,,? Semoga kamu, aku, dan kita semua selalu berada dalam lindungan yang Maha Kuasa. Amin ya robbal aalamin.
Ukhty, aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu. Yah, waktu itu kita hanya berpapasan, dan aku sedikit menoleh ke arahmu. Subhanallah, kau begitu cantik dengan senyum yang tertukil diwajahmu, wajahmu begitu teduh mendamaikan jiwa, sungguh,,,, aku tak dapat berkata apa-apa saat itu. Kau sungguh luar biasa dengan jilbab panjangmu. Bahkan waktu itu, aku sempat berfikir untuk mengikuti jejakmu. Aku benar-benar ingin. Sungguh.
Tapi sekarang,,,???
Kenapa kau malah melepasnya,,,? Apa kau tak ingin terlihat cantik lagi? Apa kau sudah bosan dengan jilbab panjang itu? Apa kau takut jika kau masih mengenakan jilbab panjangmu, tak ada laki-laki yang mau mendekatimu? Apa kau,,,, agggrrrhh,,,,,,,, pertanyaanku sungguh banyak ya,,,? Ohh,, maaf. Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Sungguh.
Aku hanya ingin tau, kenapa kau melakukannya? Itu saja.
Atau jangan-jangan kau sudah muak? Panas,? Atau apa…?
Ah,, mungkin kau tidak sanggup mendengar cemooh orang-orang diluar sana. Yang mengatakan penampilanmu seperti orang tua. Seperti nenek-nenek. Seperti kue lapis. Seperti karung beras. Atau apalah itu sebutannya. Tak usah dengarkan mereka. Ukhti, mereka hanyalah orang-orang yang tak paham dengan tindakan kita, mereka tak mengerti dengan usaha kita. Jadi untuk apa didengarkan. Hanya buang-buang waktu.
Ukhti
Tahukah dirimu, bahwa setiap jengkal lekuk tubuhmu adalah racun yang sangat sempurna. Yah,, sempurna untuk membabat habis keimanan para adam. tak inginkah kau dihargai dan dihormati karena akhlak dan keimananmu?, dan tahukah kau, Allah sudah mengatakn  bahwa derajatmu 3 kali lebih tinggi dibanding adam, bahkan Allah meletakkan surga yang Agung ditelapak kakimu. masih tak sadarkah kau wahai Ukhti
Ukhti…….
Aku paham betul bagimana perasanmu kala itu. Kau pasti sedih. Bagaimana kalutnya perasaanmu kala kau mendapati mereka yang dengan seenak jidatnya sendiri mengatakanmu seperti itu.
Ukhty, berhijrah itu tidaklah mudah. Ibarat kita mengupas bawang merah, untuk mendapatkan isinya, mustahil kita tidak menangis. Banyak rintangan yang akan kita lewati. Salah satunya adalah tentang penilaian orang lain terhadap kita. Tapi tak apa. Niat kita baik. Kita mau memperbaiki diri, memantaskan diri dihadapan sang Ilahi, dan mengharap Ridha dari-Nya. Jangan hentikan langkahmu ya Ukhti. Kau sudah benar. Jangan ragu, dan  kau tak perlu takut.
Menangis dan bersedihlah secukupnya, dan bersyukurlah sebanyak-banyaknya. sebab, hanya orang-orang pilihan yang diberikan cobaan ini, dan kau dalah salah satu dari orang pilihan itu. La Tahzan Ukhti, karena sesungguhnya Allah selalu bersama kita. Maka, dalam tiap gerimis kesedihan, hanyutkan dirimu dalam zikir panjang malammu, dalam tiap kerikil panjang dijalanan, benamkan wajahmu dalam sujud kepasrahan, dalam tiap duka yang menyapa, hanyutkan air matamu dalam sungai kasih-Nya, dalam tiap nestapa, larutkan pahit air matamu dalam manis cinta-Nya, dan dalam tiap kelabu langitmu, panggillah nama-Nya.....
Allah...Allah...Allah,,,,,, dan tunggulah. hingga Ia merubah mendungmu menjadi pelangi warna warni.
Sebut nama-Nya dalam keadaan apapu ya Ukhti.
Terakhir,,, hhhmmmmm.... titip salam untuk sabarmu yaaah,,,

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Dari seseorang yang sangat mengagumimu :)


Jumat, 02 September 2016

Cinta



Pahamilah segalanya dengan Cinta. Karena dengan Cinta kau akan memahami kedamaian hati, dan ketika ia merasuk, mencoba menyatukan rasamu dengannya, biarkan dia membawamu terbang jauh sejauh yang tak bisa kau sentuh, layaknya merpati yang berkepak diantara hitam putih hamparan langit biru yang membawa risallah Cinta bagi jiwamu, seperti halnya kau memahami akan dirimu sendiri, yang kian jauh merenungi perjalanan hidup yang kian menukik, yang sarat akan tanya.
Senja tampak sayu dibalik lipatan kabut suasana hatiku. Rasa itu masih membiaskan warna-warna mempesona, teduh memandikan jiwa yang sepi, ketakjuban memancar diantara celah lanskap yang kian terus berurai sendu.
Kala itu, langit tampak mendung sembab, buram, kabut hitam putih menyelimuti bebukitan yang membuhul diantara celah-celah ranting pepohonan, gerimis turun berlarik-larik dari langit seperti sekawanan anak panah yang dihujamkan ke perut bumi. Segalanya sama seperti apa yang aku rasakan saat ini. Entah apa yang ku lakukan. Ingin rasanya aku melupakan dirinya yang pergi entah kemana. Tapi kenyataan berkata lain.
 setelah setelah ia berlalu, ku rasa semuanya akan baik-baik saja. namun nyatanya, aku benar-benar terjatuh dan tersungkur. kusadari, ia pergi tanpa pamit,,




Dalam Penantian



Akhy..
Aku mungkin agak lelah dalam penantian, tapi aku yakin bahwa kau kan datang menjemputku. Bukan bak pangeran berkuda putih yang gagah atau pun bak pujangga yang melamarku dengan sejuta puisi..

Akhy..
akulah  tulang rusukmu yang hilang, aku akan bersabar sampai kau datang menyempurnakan dien kita. Aku akan menjaga izzahku sampai kau datang dengan gagah pada kedua orang tuaku

Akhy…
aku menantimu dengan penuh ketenangan, Tenangku bukan berarti diam tanpa arti.
Tenangku bukan berarti hanya menunggu termenung. Namun tenangku adalah do'a dan tawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala..
Akhy..
aku akan sabar dalam penantianku. Kau tahu ku tak setegar Fatimah, tak secerdas Aisyah.. aku juga tak seberani Khadijah yang berani melamar Rasulullah Alaihi Wasallam lebih dulu. Tapi aku yakin dibalik ketidak beranianku tersimpan sejuta arti untuk pangeranku..

Akhy..
Dekatkanlah dirimu kepada Allah, sebelum kau mendekat padaku. Dialah yang lebih tau yang Terbaik untukmu, Dialah yang mampu mendekatkan hati kita. Dialah yang mampu membolak-balikkan hati kita.. Maka senantiasalah serahkan hatimu untuk-Nya.
Ku yakin dan kau pun yakin, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik….

Yakinlah Akhy (…………….)
Sang Sutradara kehidupan sedang memberikanmu jalan untuk menggapai Jannah_Nya..

Mencintaimu dalam diam



Hari ini adalah hari tarakhir aku melihat matamu dengan tajam. Hari terakhir aku bisa memelukmu dalam diamku. Hari terakhir kau ada dipelukanku. Hari dimana aku bisa menghentikan waktuku hanya denganmu. Hari dimana aku tak peduli lagi dengan hari esok.
Seandainya hari esok yang ku lalui begitu berat,,, Aku akan kuat. Berbekal senyum terakhirmu yang rasanya tak kan pernah usai.
Karena besok kau akan pergi. Tanpa  bicarapun aku tau, ini adalah saat pertama dan terakhir kita dalam perasaan yang terus terusik. Ku biarkan saja, karena bersamamu terasa indah.
Aku ingin marah terhadap diriku sendiri. Tutupi perasaan itu. karena dia kini ada disini, bersamaku, tersenyum, tertawa tanpa perlu berfikir apa yang sudah terjadi sebelum ini. Terasa tersiksa.
Lalu, satu per satu suara dan bayangan serta senyuman-senyuman itu memudar, memudar dan semakin pudar. Rasanya aku ingin menghukum diriku sendiri karena terlarut padanya, setelah harapan-harapan itu nyatanya benar-benar kosong dan tak berarti sama sekali.
Hari-haripun ku lalui. Sepertinya aku masih memikirkan tentang dia, dia dan dia. Aku hanya ingin agar dia tau apa yang sebenarnya ada dibenakku. Dan memang aku belum sadar, sejak aku mulai memberikannya ruang untuk membaca hatiku, seolah-olah dia tidak peduli lagi padaku. Akupun tak tau mengapa.
Tatapannya berkata seolah aku cantik. Tapi dia juga cantik. Bahkan aku bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan dirinya. Gadis manis yang berwajah lugu dengan rambutnya yang terurai panjang yang tertulis berpasangan denganmu.
Sepanjang malam akan menjadi saat terindah dengannya. Dan benar, aku memang tak layak bersanding dengannya. Aku telah menjadi sosok yang tidak diperlukan lagi, terdampar, tersisih, terbuang. Aku hanya selalu menjadi penggemar dalam diammu, berlalu hanya semalam, tepatnya bukan, dan aku akan terkubur dalam ingatanmu,,, selamanya,,,,
Aku ditumpukkan dalam kotak “WHO LOVED ME”. Posisiku sekarang sejajar dengan seragam anak SMA yang sengaja tergantung lama tak terpakai. Dan baju resepsi pelantikan pengurus OSIS. Apa salahku,,,? Tidakkah ia juga bagian dari malam itu,,,?
Aku hanya sekumpulan benang yang akan menjadi kain. Aku pernah tersenyum, meski hatiku terluka.
Tidakkah TUHAN menjadikannya untukku,,,?
Aku juga pernah tertawa disaat aku berpisah dengannya. Sekali lagi, cinta tak harus memiliki.
Kucoba tanyakan ini padamu.
Cinta, rindu, hasrat jiwa, sendiri, merana, sirna,,,
Kau boleh menyentuh jemarinya. Kau boleh mencium bibirnya. Rasanya hatiku mati rasa. Meskipun kau lebih dan lebih.
Teruskanlah,,,
Kini aku tak mau tau, ambil dia,,,!!!
Jika itu bisa membuatmu bahagia. Aku siap sakit hati. Sekarang kau bebas sebebas maumu. Anggaplah aku tak melihat. Kini ku tak mau tau.

Hanya Diam



Aku…???
Siapa aku? Aku hanya peran yang melintas dan mengganggu hidupmu, namun mengagumimu. Kau bisa terus mengabaikanku. Aku sudah cukup kuat untuk membangun tiang ini untuk kau abaikan. Lagi.. Aku terlalu biasa dengan semua ini, hingga aku mampu merahasiakan perasaan ini dengan baik. Aku hanyalah seseorang yang rela kau biarkan menunggu. Yang rela bertahan dalam pengabaian. Kamu selalu menjadi yang utama bagiku. Kau selalu menjadi orang yang ku pandang, meskipun dari kejauhan. Aku tak menonjol dalam segala hal. Wajar saja kau tak menganggap kehadiranku. Terus mencintaimu dalam diam dan terus mengagumimu dalam pengabaian. Hanya karena aku tak bisa mengungkapkan, bukan berarti aku tak menyimpan perasaan yang dalam. Setidaknya, biarkan aku untuk tetap mencintaimu dalam diamku. Meski aku tau perasaan ini tak mungkin terbalaskan dan mungkin salah.
Aku mencintaimu walau dalam diam, aku selalu mengagumimu walau aku tak pernah kau pandang. Aku selalu membawa namamu dalam doa, meski kau tak sadar, ada aku yang mencintaimu disini. Selama ini aku ada didekatmu, memelukmu dalam doa. Mencintaimu dalam kebisuanku. Biarkan cinta ini tetap ada, walau terjebak dalam diam. Cinta tak harus memiliki? Kalau begitu, mencintaimu dalam diam pun bukan masalah bagiku. Apakah sosokmu nyata? Mengapa engkau begitu sempurna, meskipun jari kejauhan.??Bagiku, tak maslah jika aku harus mencintaimu dalam diam, asalkan kau masih bisa ku pandang. Itu cukup. Ada yang mendoakanmu meski kau mengabaikannya.
Ada yang merindukanmu meski kau tak tau. Itu AKU. Karena mungkin lebih baik memendam jika yang terucap hanya akan menambah jarak. Apa yang salah mencintaimu tanpa balasan? Apa yang salah dengan mencntaimu dalam diam? Hanya berani menatapmu dari kejauhan, mencintaimu dalam kebisuan, dan merindukanmu dalam airmata. Bisakah aku memintamu sekali saja untuk aku terlihat penting bahkan terlihat penting dimatamu.? Ohh tidak,, apa ini? Aku sadar, betapa tak tau dirinya aku.
Memilih untuk diam, memperhatikan dari kejauhan, bahkan mendoakanmu dalam diamku.  Cukup sederhana. Tapi kamu tau, ini sangat menyakitkan…. Aku mencintaimu walau hanya dalam diam. Aku selalu mengagumimu walau tak pernah ku ungkapkan padamu. Aku hanya pemeran yang sudah dituliskan Tuhan untuk menjagamu, tapi tak disampingmu, mencintai tapi tak selalu disisi. Bukalah matamu. Oh. Bukan mata itu. Tapi mata hatimu. Lihatlah sosok diriku yang diam-diam memperhatikanmu.
Imajinasi tetaplah imajinasi. Mimpi tetaplah mimpi. Kenyatannya kau hanyalah mimpi yang ku imajinasikan. Untuk menyentuh sedikit saja bagian dari hatimu aku tak sanggup, kurang apa aku…? Mungkin kurang tau diri. Dalam sudut hatiku menyimpan rasa. Hanya dalam sudut ruang ku memandang, biarkan aku jatuh cinta. Punggungmu begitu teduh untuk kunikmati, pelukanmu begitu hangat untuk ku resapi. Tapi apalah daya, ketika semua itu hanyalah mimpi. Mimpi yang tak pasti. Selama ini aku berharap, kau bisa mengetahui perasaanku, walau itu rasanya mustahil. Aku berusaha tanpa menjagamu, biarlah aku menyayangimu dari jauh. Bukankah hanya menggandeng tangan itu mudah,,,? Lalu apa yang sulit,,? Mengagumimu dalam diamku.? Biarkan aku memelukmu tanpa memelukmu, biarkan aku hanya mengagumimu dari jauh. Mengagumimu dari jauh, melihatmu tanpa menyentuhmu, seperti menyentuh angin yang tak pasti.
Kurang beruntungkah insan yang ku sebut “KAMU”? Walau hanya dalam diam, aku selalu bertanya tentangmu bahkan selalu merindu. Jauh dari tatapan, jauh dari pelukan, namun selalu menjadi yang terdekat untuk selalu mengatakan “RINDU…”
Tanpa kata, hanya melalui diam. Tanpa kepastian hanya melalui harapan. Dari jauh ku mengagumimu.
Kamu tau bagaimana pungguk merindukan bulan,,,,,,,,,,??? Seperti itulah aku mengagumimu dari kejauhan dan dalam diam,,